Posted by: almuchibbin | July 20, 2008

Teman mengingatkan “Pentingnya rasa syukur”

Suatu ilmu ataupun obat hati sering datang ketika kita sedang silaturahmi. Ketika itu aku mau pergi ketempat orang tua asuhku untuk bersilaturahmi. Tapi berhubung mereka tidak ada dirumah. Aku teringat kepada seorang yang dulu pernah aku kenal. Kebetulan rumahnya tidak jauh dari tempat Bapak dan Ibu asuhku tinggal. Sungguh tak kusangka ternyata sudah terjadi banyak perbedaan pada orang yang aku kenal dulu. Sewaktu baru pertama kali ke Jakarta, aku bertemu dia masih dalam kondisi dia belum memunculkan ilmunya. Dia masih sedikit menyembunyikan ilmunya karena dia sendiri merasa belum bisa selalu mengamalkannya. Tapi berbeda dengan kondisi saat ini, perubahan drastis. Bahkan menurut aku, sekarang dia sudah benar-benar menjadi seorang Ustadz.

Kemahiran tutur katanya sangat menyenangkan untuk didengar. Ketepatan kata-katanya seakan serangkaian obat. Sehingga aku seakan terhanyut dalam untaian kata-katanya. Seorang yang dulunya kerasnya minta ampun, sekarang berubah menjadi seorang yang sangat lembut.

Setelah sekian lama berbincang-bincang tentang keadaan kita masing-masing. Dia menggiring aku untuk mendengarkan untaian kata-katanya. Dia memulai dengan menanyakan apa pekerjaanku saat ini. Aku menjawab bahwa aku bekerja disebuah perusahaan Event Organizer. Ternyata ada kesamaan dengan dia waktu pertama kita bekerja. Dan kagetnya aku, ketika aku mejawab perkataan tentang kondisiku yang lagi baik dia selalu mengucapkan rasa syukur dengan melafalkan “Alhamdulillah”. Tidak Cuma satu atau dua kali saja, tetapi setiap kali aku menyampaikan berita baik dia selalu begitu dan begitu. Terperanga aku dibuatnya, Kondisi ini sudah sangat jauh berbeda dengan dulu.

Kemudian, dia menanyakan tentang kesejahteraanku setelah bekerja. Tentu setelah aku bekerja kondisiku menjadi lebih baik dan aku sudah bisa memenuhi kebutuhanku sendiri. Meskipun belum semuanya terpenuhi. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Dia menekankan aku agar selalu mensyukuri nikmat yang telah aku dapat. “kamu bawa uang sepuluh ribu kan? Tanya dia. Dan aku jawab “iya”. Langsung dia meneruskan,” Syukurilah uang sepuluh ribu itu. Ingat! Di tol, dibawah kolong jembatan sana, banyak keluarga yang hidup serba pas-pasan. Tidak punya rumah. Sehari cuman pegang uang Rp 5.000,- rupiah. tapi mereka harus hidup satu keluarga dengan uang segitu. Kalo pakaian mereka kusut, kotor itu bukan karena mereka jorok atau tidak mau ganti baju, tapi karena itu satu-satunya pakaian yang mereka punya mau ganti bagaimana. Sedangkan kamu punya uang sepuluh ribu, baju bersih. Maka kamu harus bersyukur”. Aku langsung berpikir, betapa beruntungnya aku hidup didunia ini dengan nikmat yang aku dapat.

Kalo dipikir lagi yang diceritakan temenku itu merupakan sebuah pembelajaran yang sangat dalam tentang pentingnya rasa syukur. Coba kalo perbandingan dia tentang orang yang tinggal dikolong jembatan kita pikirkan benar-benar. Hanya dengan uang lima ribu rupiah mereka harus bertahan hidup, dan mereka bisa. Sedangkan aku, jangankan lima ribu atau sepuluh ribu, tiap harinya bisa pegang lebih dari itu. Tapi kenapa aku sering merasa kurang. Kenapa aku tidak bersyukur dengan apa yang aku dapatkan. Malah kadang aku menggunakan cara-cara untuk mendapatkan uang lebih. Tidakkah aku bersyukur?

Nasihatnya dilanjutkan, aku kembali menyimak baik-baik. “apa yang menjadi rejeki kamu, itulah hak kamu, dan syukurilah. Dan yang belum kamu dapatkan maka jangan kamu paksakan. Meskipun kadang kamu merasa kurang, maka jangan sekali-kali bertindak hal yang tidak baik. Karena itulah jatah kamu hari ini. Dan apabila kamu beryukur maka itu akan menjadi berkah dibandingkan banyak tapi bukan hak kamu. Dan kamu jangan mengikuti ajakan orang untuk bertindak yang tidak benar”. Wah…………..kebetulan kondisi itu memang lagi pas banget dengan konsiku saat ini. Kalimat yang satu ini benar-benar langsung menusuk sampai ke hati aku. Rasanya sakit! Tapi bukannya sakit karena sedang disakiti, tapi sakit karena sedang diobati. Ibarat orang luka lalu dibersikan lukanya. Karena sekarang, aku lagi tidak mensyukuri nikmat-nikmat yang aku dapat. Aku selalu merasa kurang dan kurang, selalu ingin lebih dan lebih itulah pernyakit aku.

Semua perkataanya tentang pentinya rasa syukur patut untuk aku renungkan. Sungguh aku tidak menyadari akan pernyakitku. Kurangnya rasa syukur telah menggelapkan hatiku. Itulah yang perlu aku perangi saat ini. Semoga mengampuni dosaku yang tidak mensyukuri nikmat-nikmatnya. Amin!

Gambar untuk direnungkan


Leave a response

Your response:

Categories